Masjid Al-Ikhlas Taluk Balai
Sejarah Pembangunan Masjid Al Ikhlas Taluk Balai
Ditulis oleh: Ahmadi Ikhwan Andesta, berdasarkan wawancara dengan bapak Alpian (Imam Masjid) dan bapak Darlan (Warga Desa Taluk Balai)
Sebelum kita melangkah lebih jauh, perlu diketahui bahwa Desa Taluk Balai yang kita kenal sekarang, dahulu bernama Sundutan Tigo. Nama ini akan sering kita dengar, karena ia adalah setting utama dari awal mula cerita ini.
Jika di kemudian hari Anda menemukan ada informasi yang perlu dikoreksi atau dilengkapi, kami dengan sangat terbuka menerima masukan. Silakan hubungi admin website resmi masjid di sini ( ADMIN ) untuk laporan tersebut. Sekarang, mari kita mulai perjalanan ini.
Sejarah Awal Mula: Pembangunan Masjid dari Donasi Perusahaan Kayu
Jadi Ternyata Masjid Al Ikhlas Taluk Balai ini itu dibangun oleh pendanaan dari sebuah perusahaan kayu yang beroperasi di desa taluk balai .Nama Perusahaan tersebut , PT Alam Bumi Perkasa. Perusahaan ini, sebagaimana belakang informasi dari narasumber ternyata perusahaan beroperasi secara ilegal di kawasan desa.
"Waktu itu, memang sudah jadi kebiasaan," ujar pak Darlan sambil menyeduh Tehnya. "Jika ada perusahaan yang 'membuka lahan' di wilayah kami, warga mengajukan proposal. Isinya macam-macam, bisa permintaan dana untuk acara keramaian, atau untuk kepentingan bersama."
Dalam budaya setempat, permintaan dana untuk pesta atau hiburan musik sering disebut dengan istilah keyboard. Selain itu, ada juga mekanisme kompensasi lain: untuk setiap meter kubik kayu yang diangkut, perusahaan harus membayar sejumlah uang kepada warga sekitar. Skema ini adalah bentuk negosiasi warga atas kehadiran perusahaan yang seringkali mengganggu ekosistem dan ketenangan hidup mereka.
"Nah, salah satu proposal yang diajukan waktu itu adalah permintaan dana untuk membangun sebuah masjid dan hiburan untuk warga berupa ( keyboard)," Kata pak Darlan. " Melanjutkan perkataannya,saat itu warga butuh tempat ibadah yang layak, yang bisa menampung jamaah dengan nyaman."
Dari sisi PT Alam Bumi Perkasa, menerima proposal ini adalah sebuah strategi. Dengan memenuhi permintaan warga, terutama untuk hal yang bersifat sosial dan religius seperti pembangunan masjid, operasi mereka diharapkan bisa berjalan lebih lancar. "Ibaratnya, ini semacam 'uang damai' agar tidak ada aduan atau perlawanan dari warga terhadap aktivitas mereka yang ilegal," .
Akhirnya, disepakatilah pembangunan masjid pertama tersebut. Perkiraan tahunnya sekitar antara 2006 atau 2007. Masjid itu dibangun dengan ukuran sekitar lima belas meter kali lima belas meter (15 X 15 METER ). Sebuah awal yang sederhana, yang dibiayai oleh uang dari perusahaan PT.ALAM BUMI PERKASA.
Ujian Pertama: Kesalahan Konstruksi dan Robohnya Mihrab
Masjid pun berdiri. Namun, bangunan yang seharusnya menjadi tempat yang kokoh untuk beribadah ini justru menyimpan masalah sejak awal. Konstruksinya tidak dikerjakan dengan cermat.
Bapak Alpian, yang menjadi Imam, menceritakan pengalaman unik sekaligus memilukan saat itu. "Ada bagian mihrab, tempat imam memimpin shalat, yang konstruksinya sangat lemah. Suatu ketika, ketika akan dilakukan perbaikan dan pembongkaran ulang, alat berat digunakan untuk menghancurkannya."
Apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. "Hanya sedikit saja ujung alat berat itu menyentuh bagian mihrab," kenang bapak Alpian, "seluruh bagian itu langsung ambruk, seperti tumpukan kotak kayu yang disusun tanpa lem atau paku."
Kejadian itu membuktikan bahwa bangunan tersebut sejak awal sudah rapuh dan memiliki retakan-retakan yang tidak terlihat. Robohnya mihrab bukanlah sebuah kemalangan, melainkan sebuah peringatan, mungkin dengan material serta tenaga yang asal-asalan, tidak akan bertahan lama. Bagian mihrab itu kemudian dibangun kembali, tetapi bayang-bayang kerapuhan tetap membekas di benak warga.
Perubahan Nasib: Beralihnya Pendanaan ke Tangan Warga
Takdir berjalan. Operasi PT Alam Bumi Perkasa yang ilegal akhirnya diketahui oleh pemerintah. Warga desa, termasuk Bapak Darlan, mengaku tidak tahu persis detail penyebabnya. Yang pasti, perusahaan itu ditutup dan hengkang dari Desa Sundutan Tigo.
Kepergian perusahaan membawa konsekuensi langsung bagi masjid. Sumber pendanaan utama yang selama ini membiayai operasional masjid pun terputus sama sekali. Masjid Al Ikhlas yang tadinya "ditanggung" oleh perusahaan, tiba-tiba menjadi tanggung jawab penuh warga.
"Kami tidak bisa membiarkan masjid ini mati," ujar bapak Alpian dengan suara tegas. "Akhirnya, disepakati sistem iuran dari setiap keluarga. Awalnya, setiap keluarga menyetor lima ribu rupiah per bulannya."
Ini adalah titik balik yang sangat penting. Masjid Al Ikhlas beralih dari "anak emas" perusahaan yang diragukan keabsahannya, menjadi milik sepenuhnya masyarakat. Proses gotong royong dan swadaya murni inilah yang justru memupuk rasa memiliki dan kebanggaan kolektif warga terhadap masjid mereka. Meski dengan dana yang terbatas, masjid ini tetap hidup dan berdenyut, dihidupi oleh keringat dan niat tulus warga Taluk Balai.
Babak Baru: Rekonstruksi Besar dan Pinjaman dari Haji Syarif
Tahun dua ribu dua puluh dua (2022),menjadi tahun yang bersejarah. Setelah bertahun-tahun bertahan dengan bangunan lama yang sederhana dan pernah rapuh, Masjid Al Ikhlas mendapatkan angin segar. Melalui KUD (Koperasi Unit Desa) Mitra Kerja Desa Taluk Balai (nama baru Sundutan Tigo), masjid mendapatkan suntikan dana yang signifikan.
"Waktu itu, muncul semangat bersama untuk membangun masjid yang baru, yang lebih besar dan lebih kokoh," cerita bapak Alpian. "Kami sepakat untuk melakukan rekonstruksi total."
Rencana ambisius ini tentu butuh dana yang tidak sedikit. Ukuran masjid direncanakan diperbesar dari lima belas kali lima belas meter menjadi (18 Meter ) delapan belas kali (20 Meter )dua puluh meter. Itu belum termasuk teras yang mengelilinginya. Sebuah menara masjid juga akan dibangun, dengan perkiraan ketinggian antara dua puluh hingga dua puluh enam meter. Sebuah transformasi yang sangat dramatis.
Di sinilah peran seorang dermawan, Haji Syarif, muncul. Beliau adalah warga asli Aek Garingging yang mendengar tentang proyek pembangunan ini. "Beliau menawarkan bantuan yang luar biasa," kata bapak Alpian. "Bukan berupa uang tunai, tetapi dalam bentuk pinjaman material bangunan."
Haji Syarif menyediakan segala kebutuhan pokok pembangunan: semen, besi beton, pasir, batu bata, dan lain-lain. Total nilai bantuan material ini diperkirakan mencapai sekitar satu miliar rupiah. Sebagai bentuk tanggung jawab, pengurus masjid menyepakati untuk mencicil pinjaman ini sebesar empat puluh juta rupiah per bulan.
"Ini adalah bentuk kepercayaan yang sangat besar dari Haji Syarif kepada kami," tambah Alpian. "Dan kami berkomitmen untuk melunasinya."
Masa Kini: Membangun dengan Swadaya dan Kemandirian
Dengan dana dari KUD dan pinjaman material dari Haji Syarif, pembangunan masjid baru pun dimulai. Proyek rekonstruksi besar-besaran ini mengubah wajah Masjid Al Ikhlas sepenuhnya. Dari bangunan sederhana berukuran kecil, kini berdiri megah sebuah masjid dengan arsitektur yang lebih modern dan kapasitas yang jauh lebih besar.
Namun, membangun adalah satu hal, melunasi hutang dan memastikan keberlangsungan operasional adalah hal lain. Pengurus masjid, dipimpin oleh Imam Alpian, bekerja keras mencari sumber pendanaan yang berkelanjutan.
Beberapa sumber pemasukan resmi Masjid Al Ikhlas Taluk Balai saat ini antara lain:
· Dana dari KUD Mitra Kerja Taluk Balai: Sumbangan yang menjadi pemantik awal rekonstruksi.
· Hasil Kebun Plasma Masjid: Masjid memiliki empat bidang kebun yang hasilnya disalurkan untuk kepentingan masjid. Ini adalah bentuk kemandirian yang cerdas.
· Iuran Warga: Iuran yang awalnya lima ribu per keluarga, kemudian naik menjadi sepuluh ribu, dan kini menjadi lima belas ribu rupiah. Kenaikan ini disepakati bersama seiring dengan kebutuhan operasional dan cicilan hutang yang meningkat. Partisipasi warga tetap menjadi tulang punggung utama.
· Sumbangan Sukarela: Pengurus masjid memasang kotak amal di area strategis, termasuk di pinggir jalan untuk menjaring sumbangan dari pengendara yang melintas. Berbagai program donasi juga digalakkan.
Menuju Bebas Hutang dan Masa Depan yang Cerah
Hingga tahun dua ribu dua puluh lima ini, perjuangan melunasi hutang kepada Haji Syarif sudah di ujung jalan. "Alhamdulillah, sisa hutang kami tinggal sekitar empat ratus juta rupiah saja," ujar Alpian dengan senyum lega. "Cicilan empat puluh juta per bulan tetap kami jalankan dengan disiplin."
Pembangunan masjid sendiri sebenarnya masih berlangsung dalam tahap penyempurnaan. Namun, semangat untuk menjadikan Masjid Al Ikhlas tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga hidup secara kegiatan, terus digelorakan.
Bapak Darlan, dari sudut pandangnya sebagai warga, menutup percakapan kami dengan penuh haru. "Dulu masjid ini lahir dari situasi yang 'abu-abu', dari perusahaan yang ilegal. Tapi lihat sekarang. Allah Maha Mengatur. Kini masjid ini benar-benar milik kami, dibangun dengan air mata, keringat, dan uang kami sendiri, dengan niat yang lurus. Itu yang membuatnya sangat berharga."
Epilog: Sebuah Simbol Ketahanan Komunitas
Cerita Masjid Al Ikhlas Taluk Balai adalah lebih dari sekadar kronologi pembangunan. Ia adalah cerita tentang transformasi. Dari yang dibangun dengan uang "haram" menjadi disucikan dengan swadaya dan keikhlasan. Dari bangunan yang rapuh secara fisik dan historis, menjadi bangunan yang kokoh berdiri di atas landasan niat yang bersih dan gotong royong masyarakat.
Ia mengajarkan bahwa sebuah awal yang kelam tidak selalu menentukan akhir yang buruk. Dengan ketekunan, transparansi, dan partisipasi aktif seluruh komunitas, sebuah simbol dapat dilahirkan kembali dengan makna yang lebih mulia.
Bagi Anda yang tergerak untuk menjadi bagian dari perjalanan mulia ini, untuk membantu melunasi sisa hutang atau menyempurnakan pembangunan, Anda dapat mengunjungi website resmi Masjid Al Ikhlas Taluk Balai di masjidalikhlastalukbalai.com. Setiap donasi, sekecil apapun, akan sangat berarti dalam menuliskan babak terakhir dari sejarah pembangunan masjid yang penuh pelajaran ini.
Demikianlah artikel ini saya tulis. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Alpian dan Bapak Darlan yang telah berbagi cerita dan waktu. Semoga Masjid Al Ikhlas Taluk Balai tetap menjadi mercusuar kebaikan dan pemersatu umat di desa itu untuk selamanya.
Wassalamu'alaikum
Ahmadi Ikhwan Andesta
Terakhir Diperbarui: 29/November/2025

0 Response to "Masjid Al-Ikhlas Taluk Balai "
Posting Komentar